Kamis, 13 Juli 2017

Mereduksi Kegagapan Memandang Perbedaan





Keberagaman yang ada disekitar kita, baik agama, ras, etnik, budaya dst. tentu sudah menjadi sunnatullah. Namun keberagaman yang ada seringkali berbeda antara lingkungan yang satu dengan yang lainnya. Kondisi ini yang mendorong saya untuk mengikuti "Training Penggerak Perdamaian Berbasis komunitas di Klenteng Hong San Kiong Gudo Jombang (11/7/2017).

Saya merasa asing saat tiba di depan klenteng Gudo ini dihiasi dengan patung, ukiran dan arsitektur khas tionghoa. Selang beberapa saat kemudian disambut oleh panitia dan seketika menjadi lebih terbiasa. Walau sebelumnya pernah melihat gambar klenteng atau sedikit membaca tentang itu dari sejumlah sumber cetak dan elektronik, namun merasakan secara langsung sungguh jauh berbeda.

Keterbatasan pengalaman yang menjadikan saya terasing dari beragamnya kekayaan bangsa. Hidup di lingkungan yang relatif homogen dengan kultur santri di Bondowoso tak banyak memberi warna mengenai perbedaan dan keberagaman. Hal ini mengkonstruk pola pikir sikap dan perilaku saya ketika harus menerima perbedaan sebagai sebuah sunnatullah, hal yang gampang untuk diucapkan namun sungguh tidak mudah diterapkan.

Pengurus klenteng Gudo juga memberikan penjelasan mengenai banyak hal berkaitan dengan klenteng Gudo. Seperti klenteng Gudo ini adalah klenteng Tridharma  yang menjadi tempat beribadah bagi tiga pemeluk agama atau keyakinan, yaitu Khonghucu, Budha dan Tao. Klenteng gudo ini juga menjadi pusat dari kesenian "wayang potehi" khas tionghoa. Dengan semakin mengenal dan merasakan langsung pengalaman ini memupuk rasa menghargai akan kekayaan keberagaman di Indonesia.

Klenteng Gudo sendiri sekarang dalam proses membuka diri. Hal ini disampaikan bu Nanik sebagai pengurus klenteng. Salah satunya adalah keterbukaan pihak klenteng dalam menerima kami. Karena tidak mudah hidup menjadi minoritas ditengah dominasi mayoritas.

Malam pertama kami tiba di tempat acara kemudian kami diajak ke rumah pendeta Yes. Disana kemudian ada wellcome dinner, semacam makan malam untuk menyambut kami yang baru datang. Pendeta Yes mengatakan kalau semua makanan yang tersedia itu halal. Beliau juga bercerta mengenai pamannya yang muslim dan mereka hidup damai bersama.

Usai menyantap makan malam dilanjutkan dengan berbicara santai dengan sesama peserta training penggerak perdamaian berbasis komunitas. Ada satu peserta yang bergama katolik bercertia mengenai persoalan yang ada di internal agamanya, dimana banyak anak muda (terutama di luar negeri) sudah jarang ke gereja. Dan persoalan lain yang kurang lebih mirip dengan permasalahan yang ada di agama lain, terutama islam.

Dengan semakin mengenal perbedaan itu justru kita semakin mengetahui dan menghargai perbedaan yang ada bukan dengan menghilangkan perbrdaannya, namun mencari titik temu persamaan, seperti saling menghargai, membela yang lemah, menegakkan keadilan, dst.

Selain teman yang berbeda agama, ada juga teman dengan agama yang sama, yaitu islam. Namun pencarian dan pemaknaan akan keislamannya sunggung sangat mendalam. Dari sini saya semakin tau bahwa sangat hanyak yang masih belum saya tahu, sehingga terlalu gagap memandang perbedaan dan terlalu mengambil jarak untuk merasakannya. Padahal jika dilihat dari dekat perbedaan dan keberagaman itu terasa sungguh indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar