Senin, 29 Februari 2016

Menaklukkan Ranu Agung Probolinggo



Udara pada Sabtu pagi itu masih terasa sejuk dan langit masih mendung. Kami akan berangkat ke Ranu Agung Probolinggo bersama teman-teman UKM LIMAS FISIP UNEJ. UKM yang bergerak di bidang riset dan aktivitas ilmiah lingkup sosial politik. Mundur sekitar dua setengah jam dari jadwal keberangkatan yang seharusnya pukul 07.00 WIB dan akhirnya baru berangkat pukul 09.30 WIB.

Sebelum berangkat, kami berkumpul di skretariat kompleks UKM FISIP UNEJ, berdoa terlebih dahulu untuk memohon keselamatan dan kemanfaatan perjalanan. Setelah berdoa, kami sejumlah 36 orang anggota berangkat dengan menggunakan sepeda motor.


Dalam perjalanan ban motor yang kami kendarai tiba-tiba kempes di daerah perbatasan Bangsal dengan Tanggul. Untunglah

Rabu, 03 Februari 2016

Pantai Kuta, Surganya Peselancar


Pantai Kuta

Setelah Pantai Sanur, kemudian Pantai Kuta. Dua pantai yang menjadi destinasi wisata internasional yang ada di Pulau Dewata. Dua pantai yang wajib dikunjungi apabila hendak ke Bali. Apabila Pantai Sanur dikenal dengan menikmati sun rise, maka Pantai Kuta adalah surganya bagi para peselancar. Ombak yang sangat teratur dan sangat pas untuk berselancar menjadikan tempat ini selalu ramai dikunjungi para wisatawan, terutama wisatawan manca negara. 

Untuk masuk ke area Pantai Kuta cukup membingungkan bagi kami, apalagi ditambah ini adalah pengalaman pertama. Mengikuti petunjuk arah sempat membuat kami tersesat, karena banyak parkir yang ternyata sangat jauh dari area pantai.

Itu dilakukan karena area parkir di area pantai sangat terbatas, dan akan menghambat kendaraan yang akan masuk atau keluar dari area pantai apabila kendaraan, terutama kendaraan roda empat apabila diizinkan masuk.

Pintu Masuk Pantai Kuta

Pantai Kuta ini adalah tujuan terakhir dari destinasi wisata Pulau Dewata yang ingin kami kunjungi. Matahari semakin meninggi, dan rencana berikutnya adalah pulang kembali ke Jember. Sebelum pulang, tentu terasa ada yang kurang apabila tidak berburu oleh-oleh dari Pulau Dewata.

Namun sayang, keuangan kami sudah sangat menipis, jadi perlu berhemat untuk bisa kembali pulang. Karenanya kami hanya sempat membeli kaos "Hard Rock Bali".

Pantai Sanur

Pantai Sanur

Sampailah kami di pantai Sanur yang sebenarnya. Setelah keluar dari Pantai Karang, kami melanjutkan perjalanan dengan tujuan Pantai Kuta. Namun, baru beberapa puluh meter keluar dari Pantai Karang, kami bertemu dengan sebuah papan nama yang bertuliskan "Pantai Sanur". Saat itulah kami benar-benar menyadari bahwa pantai sebelumnya (Pantai Karang) bukanlah Pantai Sanur.

Disini kami ragu untuk singgah atau melanjutkan perjalanan. Tidak berselang lama kami bertukar pendapat, akhirnya kami putuskan untuk singgah di Pantai Sanur. Dengan cukup membayar parkir, kalau tidak salah hanya sejumlah Rp 3 ribu perak, kami mulai masuk ke area Pantai Sanur.

Saat itu mentari sudah mulai meninggi, dan karena memang bukan untuk menikmati mentari terbit kami singgah. Pantai dengan ombak yang tenang dan terlihat banyak speed boat yang digunakan para pengunjung untuk diving. 

Di pantai ini juga kami memutuskan untuk mandi di pantai. Bersama banyak pengunjung lainnya, dengan lebih dulu menyewa kursi payung untuk tempat barang bawaan. 

Pantai Karang, Awal Permulaan Dunia

Sun rise: Pantai Karang

Tepat waktu subuh, kami sampai di sebuah pantai yang kami kira adalah pantai sanur. Karena kondisi yang masih baru terbit fajar, kami kembali beristirahat setelah memasuki area pantai. Pantai itu adalah Pantai Karang, dengan slogan yang kalau tidak salah bila diartikan dalam bahasa Indonesia adalah "lihatlah awal permulaan dunia di sini".

Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya sampailah pada waktu yang kami tunggu-tunggu, yaitu matahari terbit (sun rise). Menyambut matahari terbut dipantai ujung timur Pulau Dewata memang menjadi tujuan kami beriutnya. Setelah tentunya beristirahat sejenak di Alun-alun Badung.

Pada waktu itu, kami tidak terlalu menyadari kalau pantai itu ternyata bukan Pantai Sanur. Karena banyaknya turis dan kondisi pantai yang juga sangat cantik serta tertata rapi. Tapi mungkin ini juga bagian dari Pantai Sanur, entahlah.... 

Setelah puas menikmati matahari terbit dan sesuai slogannya, menyambut awal permulaan dunia di Pantai Karang, kami kembali melanjutkan perjalanan.

Alun-alun Badung

Alun-Alun: I Gusti Ngurah Made Agung

Setelah melanjutkan perjalanan dari Jembrana, kemudian Tabanan dan akhirnya kami sampai di Badung, tepatnya di Alun-alun Badung. Tempat alternatif untuk beristirahat, karena kondisi juga sudah malam pada saat itu. Jadi tempat yang masih ramai salah satunya adalah alun-alun. Alun-alun Badung yang kemudian diresmikan dengan nama Alun-alun I Gusti Ngurah Made Agung, untuk mengenang jasa kepahlawanannya.

Sebelumnya kami mencoba mencari alternatif tempat beristirahat seperti hotel dan warung makan, tapi dia opsi itu tidak bisa kami pilih karena sekian pertimbangan. 

di Alun-alun ini, seperti biasa kami tidak mau melewatkan momen untuk menikmati berbagai sudut tempat yang kami singgahi. Kami coba berkeliling dengan berjalan kaki menyusuri setiap sudut alun-alun I Gusti Ngurah Made Agung. Di sini juga ada patung Puputan, sebagai monumen untuk mengenang perang puputan masyarakat Bali yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Made Agung untuk melawan penjajahan Belanda pada waktu itu. 

Monumen: Patung Puputan

Kami terpaksa beristirahat di tempat ini, menunggu sampai bisa melanjutkan perjalanan kembali. Tentu dengan tidur bergantian untuk salah satu tetap berjaga. setelah beberapa jam beristirahat dan waktu menunjukkan hampir subuh, kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan.

Seharusnya fisik kami sangat lelah karena perjalanan jauh dengan menggunakan sepeda motor, ditampah tempat istirahat yang sangat tidak kondusif. Tapi begitulah, perjalanan dengan modal nekat dan beristirahat dimanapun tempat menjadi makanan ringan kami..


Perbatasan Jembrana - Tabanan

Pantai Perbatasan Jembrana - Tabanan

Entah pantai apa ini, kami lupa. Tapi yang pasti, pantai ini terletak di perbatasan antara Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Tabanan. Karena memang tidak ada persiapan khusus, seperti tempat tujuan. Jadi kami punya keinginan untuk mencoba menyinggahi tempat wisata (terutama pantai) yang ada di Pulau Dewata ini. Khususnya yang terletak di Jalur Selatan Bali.

Di pantai ini tidak terlihat adanya aktivitas berselancar dari para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Mungkin karena ombak dan kondisi pantai yang tidak mendukung untuk itu. Perjalanan yang sudah terasa cukup jauh dan fisik yang semakin lelah, membuat kami juga singgah di tempat ini untuk istirahat sejenak.

Kemudian kami kembali bergegas sebelum matahari mulai terbenam.

Pantai Madewi Jembrana

Madewi: Pantai di Jembrana

Setelah keluar dari Pelabuhan Gilimanuk, kami terus menyusuri jalan, jalur selatan Pulau Dewata. Melewati Hutan atau entah mungkin juga Taman Nasional yang tidak ada rumah penduduk sama sekali. Kami mencari Masjid untuk sholat, masih di Kabupaten Negara. Setelah itu berhenti di SPBU yang di depannya terdapat semacam gardu kecil untuk beristirahat, disana kami makan bekal yang kami bawa.

Berikutnya, melewati Negara dan Mulai memasuki jembrana kami menemukan sebuah pantai, Pantai Madewi namanya. Pantai Madewi yang terletak di Kabupaten Jembrana adalah pantai pertama di Pulau Dewata ini yang kami singgahi. Berawal dari melihat sebuah papan nama pantai "Madewi" di pinggir jalan utama jalur selatan Bali. Kami memutuskan untuk berbelok dan singgah di tempat itu.

Pantai ini juga digunakan untuk berselancar oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Sekilas kita lihat, ombak yang ada di pantai ini tidak terlalu besar, jadi mungkin cocok untuk para pemula. 

Kami menikmati keindahan Pantai Madewi sebuah warung sederhana di tepi pantai. Sambil melihat kegiatan berselancar para pengunjung.  Kebetulan si penjual juga berasal dari Pulau Jawa, tempatnya dari Kota Malang. Dia merantau dan membuka usaha berjualan di sebuah warung setelah banyak usahal lain juga sempat dia geluti pada awalnya.

Hanya sejenak kami memutuskan untuk singgah, kemudian perjalanan kami lanjutkan sebelum sore menjemput...

Taman Blambangan dan Bangunan Peradaban Banyuwangi

Taman: Tulisan Taman Blambangan di Alun-alun Banyuwangi

Blambangan merupakan nama dari salah satu kerajaan di ujung timur pulau Jawa. Dimana kemudian menjadi cikal-bakal Kabupaten Banyuwangi. Nama kerajaan yang diabadikan sebagai mana sebuah taman kota di Alun-alun Banyuwangi. Sebuah peradaban yang masih sangat mewarnai karakter masyarakat di Kabupaten Banyuwangi. Sebuah kabupaten dengan nuansa mistis yang sangat kental, dan berpenduduk asli Suku Osing.

Perjalanan dari perbatasan Jember (kaki Gunung Gumitir: tepat sebelum memasuki perbatasan Kabupaten Banyuwangi) untuk sampai ke pusat kota Banyuwangi cukup jauh dan melelahkan . Waktu tempuh sekitar 2,5 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Akhirnya, inilah tempat yang kami singgahi untuk kembali beristirahat sejenak sebelum menuju Pulau Dewata pada Desember 2014 itu.

Taman Kota di Alun-alun seperti ini sangat dibutuhkan, terutama sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk mengimbangi polusi, yang diakibatkan kendaraan bermotor dan industri yang berada di pusat kota. Tempat yang kami bahwan tidak tahu sebelumnya dan seperti biasa hanya bermodal nekat (dan tentu bersama kuasaNya) yang kemudian mengantarkan kami sampai pada tempat ini.

Selesai menikmati eloknya Taman Blambangan, kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Ketapang.

Kaki Gunung Gumitir, Gerbang Banyuwangi

Santai: Kaki Gunung Gumitir

Suatu hari, dimana kami memutuskan untuk berangkat dari Kabupaten Jember Menuju Pulau Dewata (Bali).  Keputusan dari sekuan perjalanan yang biasa kita lakukan tanpa persiapan yang matang. Dengan berbekal kemauan dan rencana yang tidak begitu matang (ini akan kami sampaikan pada kisah perjalanan selanjutnya). Hari itu mentari sudah terbit, namun udara masih cukup dingin menyelimuti Kabupaten Jember.
Kami berangkat pada akhir tahun, tepatnya pada bulan Desember 2014, awal memasuki libur semester ganjil masa perkuliahan.

Setelah beberapa saat menempuh perjalanan melalui rute Jember - Banyuwangi dengan melewati Gunung Gumitir, kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di kaki Gunung Gumitir. Sebuah tempat yang masih baru selesai dibenahi oleh Pemkab Banyuwangi. Alternatif tempat untuk beristirahat sambil bersantai lepas Gunung Gumitir. Persis sebelum memasuki Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.

Tempat ini sangat bisa digunakan untuk bersantai dan melepas lelah sejenak. Apalagi setelah berkonsentrasi penuh dan berfokus pada kanan dan kiri yang terdapat jurang dan tebing di sepanjang jalan yang membelah Gunung Gumitir. Sambil menikmati pemandangan Kabupaten Banyuwangi yang masih sangat hijau sangat bisa dilihat dari tempat ini.