Kamis, 13 Juli 2017

Kelembutan Tutur di Pura Amerta Bhuana Jombang







Usai mengunjungi GKJW Mojowarno, Kami melanjutkan field trip (wisata religi) kami ke pura Amerta Bhuana di Dusun Ngempeh Desa Rejoagung Kecamatan Ngoro Jombang. Kunjungan itu merupakan bagian dari rangkaian kegiatan training penggerak perdamaian di Jombang. Disana kami disambut hangat oleh pak Sukirno dan saudara-saudara Hindu kami yang ada di pura Amerta Bhuana.

Kami memasuki pura melalui salah satu pintu dari tiga pintu masuk yang ada. Sebelum memasuki pura, kami melihat ada sewadah air kembang di depan pintu. Tanpa bertanya kami pun menduga air kembang itu untuk digunakan bersuci. Kami pun mengusapkan air kembang di kepala dan wajah kami, lalu melangkah memasuki pura.

Amerta Bhuana adalah nama yang dipilih untuk pura terbesar di Jombang, setelah melalui sekian tahapan. Amerta Bhuana berupakan bahasa sanskerta yang kurang lebih bisa diartikan sebagai "air kehidupan". Pak Sukirno menyatakan banyak orang sakit yang datang untuk berobat dan banyak dari mereka yang kemudian perlahan mulai sembuh.

Usai memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kami. Tiba giliran pak Sukirno menyampaikan hal berkaitan dengan kondisi umat hindu yang ada di Jombang pada umumnya dan yang ada di Dusun Ngepeh pada khususnya.

Perjuangan sebagai kaum minoritas hampir dilakukan dalam semua aspek kehidupan sosial mereka. Terutama berkaitan dengan perjuangan untuk mendapatkan keadilan. Mulai dari jumlah PNS guru agama Hindu yang hanya berjumlah satu orang di Kabupaten Jombang dan itupun sudah hampir pensiun sampai diskriminasi yang dilakukan kelompok masyarakat.

Dari sejumlah hal yang saya dengarkan dari Pak Sukirno seorang pemangku di pura Amerta Bhuana di Jombang itu adalah ketika ada seorang teman yang bertanya mengenai air dengan taburan bunga dalam sebuah bejana yang ada di depan pintu masuk pura. Beliau kemudian mengatakan bahwa sebenarnya kita keliru pintu masuk. Karena harusnya kita masuk melalui pintu madya, bukan pintu utama.

Namun sebelum menyampaikan itu, beliau mengucapkan permohonan maaf yang sangat. Karena menurut beliau hal itu tidak etis untuk disampaikan. Karena beliau yakin bahwa kesalahan yang kita lakukan adalah karena ketidaktahuan kami. Karena ada teman kami yang bertanya, makanya beliau baru kemudian menyampaikan hal tersebut. Hal ini yang benar-benar menyentuh batin saya adalah

"Begitu halusnya beliau menyampaikan kesalahan yang kita lakukan di tempat yg bahkan sangat disucikan, karena memahami ketidaktahuan kami".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar