Kamis, 13 Juli 2017

Pasang Surut Keberagaman: Merebut Kemerdekaan Berkerukunan






Lelah usai beraktivitas mengunjungi rumah-rumah ibadah sehari penuh sedikit-demi sedikit mulai terasa. Dalam sehari itu kami mengunjungi makam Gus Dur, GKJW Mojowarno dan Pura Amarta Bhuwana di Kecamatan Ngoro. Namun untuk melengkapi pengalaman kami berinteraksi dengan keberagaman (agama). Kami harus merasakan tinggal semalam di rumah saudara kami yang berbeda agama. Salah satunya sayang yang tinggal di rumah Mak Tun, seorang perempuan tua beragama kristen.

Awalnya saya sempat ragu, karena ini juga akan menjadi pengalaman pertama, maka saya meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Hingga akhirnya jauh dari bayangan saya sebelumnya, justru keluarga Mak Tun menyambut kami dengan penuh kehangatan.

Orang tua Mak Tun adalah muslim dan kedelapan saudaranya juga muslim. Hanya Mak Tun seorang dari sembilan bersaudara itu yang memeluk agama Kristen. Bahkan menurut penuturan salah satu anak Mak Tun, Sukarman, apabila ditarik pada garis keluarga yang lebih ke atas lagi ada yang disebut penganut kepercayaan.

Di Dusun Tukang Gudo Jombang ini terasa kohesi sosial warga masyarakat sangat erat. Sukarman menceritakan, selain karena mereka tidak mempermasalkan perbedaan namun juga cikal bakal masyarakat yang kompleks juga tidak terlepas dari pernikahan beda agama yang masih ada hubungan kekeluargaan. Sehingga walaupun berbeda, mereka adalah keluarga dan saudara.

Dalam penuturannya, Sukarman mengatakan bahwa kunci dalam menjaga kohesi sosial ditengah keberagaman agama atau keyakinan adalah tidak membicarakan keyakinan tersebut dari sudur pandang perbedaan, namun mencari titik temunya, yaitu kebaikan.

"Karena apabila perbedaan yang dibahasa, maka sampai anak cucu juga tidak akan selesai, namun apabila perbaikan yang ditunjukkan, semua orang pasti dapat menerima", demikian tutur Sukarman.

Sukarman menyatakan tidak tau kenapa dia memeluk agama Kristen, demikian juga dengan Mak Tun. Hal itu membawa saya pada satu titik refleksi, bagaimana dengan diri saya sendiri, mengapa memeluk agama islam?

Tapi segera pertanyaa  itu berlalu karena Sukarman segera melanjutkan ceritanya. Dari pemaknaan hidup berbangsa, bernegara dan bermasyarakar menurut Sukarman rasa kekeluargaan dan persaudaraan itu yang menjadi penting.

"Indonesia adalah kita, muslim saudara saya, hindu saya punya darah, sedangkan kristen sendiri adalah saya. Karena kalau sudah saudara mas, mereka disakiti kita juga akan merasa sakit. Lah bagaimana mungkin saya menyakiti diri saya sendiri", ungkap Sukarman.

Dari sini saya mencoba untuk menyelami kembali makna persaudaraan dan kekeluargaan dengan mereka yang berbeda dengan sebenar-benarnya makna saudara dan keluarga. Mungkin karena kehidupan keluarga dan lingkungan saya yang begitu homogen.

Menurut penuturan Sukarman, pada era tahun 80an di dusun Tukang Gudo Jombang dalam hubungan bermasyarakat seperti tidak ada sekat. Anak tetangga baik yang kristen maupun muslim makan di rumah Mak Tun.

"Kalau mereka datang terus bertanya, Mak Tun apa nasinya sudah masak? ibu kemudian sudah mempersiapkan makam untuk mereka, tanpa berfikir itu anaknya siapa, agamanya apa" ujar Sukarman.

Mak Tun sendiri pernah merawat tiga orang beda agama. Pertama adalah seorang yang beragama Khonghucu yang tidak diketahui asalnya dari mana. Kemudian dua orang lainnya adalah muslim. Mereka juga tidak tau dari mana yang tiba-tiba saja menumpang di rumah Mak Tun. Mereka bertiga dirawat Mak Tun sampai meninggal. Tanpa mengarahkan apalagi memaksa mereka untuk ikut memeluk kristen.

"Karena itu disini udah biasa nerima orang asing," terangnya.

Memang ketika kami sampai di rumah Mak Tun, kami semua disambut dengan hangat dan penuh kekeluargaan. Bahkan karena asiknya berbicang tidak terasa waktu sudah laru. Mengetahui kegiatan kami sehari penuh dan belum beristirahat sama sekali, kami pun dipersilahkan untuk beristirahat oleh keluarga Mak Tun. Namun, karena semakin larut justru semakin mengundang rasa penasaran, perbincangan kami kamudian terus berlanjut.

Sukarman berpandangan bahwa kehidupan manusia harus penuh dengan kedamaian. Dan hal itu tercermin dalam kehidupan warga di Dusun Tukang Gudo Jombang. Seperti keberadaan Klenteng Hong San Kiong atau yang dikenal dengan Klenteng Gudo yang digunakan untuk ajang silaturrahmi. Mereka datang apabila diundang untuk menghadiri acara di Klenteng. Demikian juga saat perayaan Natal dan Lebaran, sesama warga saling mengunjungi dan bersilaturrahmi walaupun mereka berbeda agama.

Dalam menjaga keharmonisan hubungan bermasyarakat tentu ada pasang surutnya. Demikian juga yang terjadi di Dusun Tukang Gudo Jombang ini. Satu hal yang menjadikan hubungan sosial mereka surut adalah saat mulai ada orang luar yang masuk di lingkungan mereka, namun orang luar ini tidak memahami adat dan kebiasaan yang berlaku,  akhirnya mulai merusak tatanan kehidupan bermasyarakat. Perubahan itu sangat nampak pada era tahun 90an ada perubahan. Dimana bisa dilihat dari batas tanah yang mulai menggunakan tembok sebagai batas area. diceritakan oramg dulu, sekarang kan beda. kemerdekaan tentang kerikunan semakin hari semakin kalah.

"Menganggap saudara itu sudah cukup. Mengajak beragama itu salah. Kita hanya menjalankan. kalau mau ikut silahkan. Tidak juga silahkan." Demikianlah seharusnya cara pandang dalam menjalani hidup ditengah keberagaman, terutama keberagamaan agama. Karena apabila tidak demikian, maka ego masing-masing yang akan muncul, yaitu kelompoknya sendiri harus menang.

Selain itu, untuk menjaga hubungan sosial ditengah keberagaman adalah dengan cara berpikir positif. Tidak menganggap perbedaan sebagai pertentangan, namun sebagai warna. Itu sudah takdir ilahi menjadikan berbagai macam warna agar terlihat indah. Apabila mendengar sesuati yang kurang enak di hati, maka harus ada prinsip mungkin kita yang salah dengar, sehingga tidak perlu untuk diperpanjang atau semakin dipermasalahkan.

Hal itu benar-benar dijaga dan diterapkan dalam lingkungan Dusun Tukang Gudo Jombang. Sebagai anggota dewan gereja, Sukarman selalu mencermati isi dari khotbah yang disampaikan di gerejanya. Ketika pndeta yang berkhutbah justru menghancurkan kerukunan, maka tidak akan diundang lagi, bahkan kalau perlu akan diturunkan pada saat itu juga. Karena menurut Sukarman, apabila bara itu datang dari dalam diri kita, maka kita sendiri yang harus memadamkannya.

"Bagi saya mas, kebenaran tetap kebenaran, kebaikan tetap kebaikan. Kebaikan tidak akan pernah berjalan mulus, Namun kalau kita tetep kokoh dengan kebaikan itu, maka kita akan dapat melaluinya", tegas Sukarman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar