Kemarin, saya melaksanakan sholat jumat d salah satu masjid di Sleman Jogja. Saat memperhatikan secara seksama isi khutbah jum'at nya kok rasanya ada yang kurang pas. Mungkin karena saya yang terbiasa mengikuti sholat jumat di desa yang isi dari khutbahnya selalu penuh nasehat yang menyejukkan.
Bahkan salah satu poin yang disampaikan dalam khutbah jumat itu berkaitan dengan Puisi Sukmawati. Kurang lebih isinya seperti ini : "apalagi sampai menghina adzan, padahal jika seluruh ummat islam yang jumlahnya sangat banyak ini bersatu siapa yang tidak akan gentar, ini bukan politik dst...".
Saya yang tidak bermaksud membela dan membenarkan sukmawati dengan puisinya tersebut. Karena sadar bukan ahli sastra, namun setidaknya memang perlu hati-hati dan mempertimbangkan manfaat dan mudhoratnya. Dalam hal ini rasanya lebih banyak mudhoratnya. Menurut saya pribadi reaksi yang berlebihan juga mubadzir. Seorang sukmawati sampai harus dilawan dengan menghimpun seluruh umat islam. Apalagi masih banyak yang berbeda pendapat karena mengikuti teladan Nabi yang memaafkan penghina adzan.
Tapi lebih dari itu khutbah jumat dengan menyinggung masalah demikian kesannya kok kurang pas. Mungkin juga karena kita memang terlalu reaktif terhadap pemberitaan dan informasi nan jauh disana. Padahal masih banyak nasehat lain yang penuh kesejukan dan keteduhan bisa kita teladankan kepada sekitar kita. Memang khotib pada waktu itu tidak memegang teks (kitab) tapi spontan dalam penyampaiannya.
Kalau kita mau memahami kitab-kitab panduan khutbah yang isinya sangat luar biasa. Karena keyakinan saya pada para ulama yang menulis kitab-kitab, salah satunya kitab panduan khutbah misalnya tentu dilakukan dengan penuh kehati-hatian, penuh ketelitian dan penuh rasa tawakkal. Kalaupun diperlukan contoh yang lebih dekat dengan masyarakat itu setidaknya harus berpegang pada prinsip-prinsip para ulama.
Apakah karena takut ketinggalan informasi atau apa, tapi toh kita sama-sama pasti mengetahuinya. Hanya saja perlu menyaring mana yang pas untuk disampaikan pada saat yang seperti apa. Apalagi dalam kondisi yang para elit bangsa kita sudah kesannya jauh dari bisa untuk diteladani.
Demikian sungguh saya menyadari betul betapa para ulama dan para kiyai kita sangat berperan penting dalam mendidik dan membentuk akhlak dan pemahaman kita. Agar kita tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan dan pemahaman, tapi juga akhlak.