Malam
itu, seperti kebanyakan malam yang biasa kita lalui dengan secangkir kopi dan
obrolan seputar persoalan serius sampai hal remeh temeh. Waktu menunjukkan
pukul 22.30 WIB obrolan itupun kami sepakati untuk diakhiri. Beberapa sahabat
masih disana, sedang kami (saya dan Lely) berdua bersepakat untuk berkunjung
dalam acara tadabbur alam yang dilakukan oleh PMII Rayon Teknokes UNEJ.
Lokasinya di PDP Gunung Pasang Panti Jember.
Sekitar
pukul 23.00 WIB kami baru bisa berangkat menuju lokasi, karena ada beberapa
barang dan perlengkapan lain yang perlu kita bawa, sehingga perlu mampir di
kontrkan dan kos terlebih dahulu. Sebelum berangkat, saya menghubungi seorang
teman yang rumahnya tidak bergitu jauh dari PDP Gunung Pasang. “Jalur masuk PDP
Gunung Pasang aman kalo malem?” demikian pesan singkat saya kirim. “Aman kok
kak”, pesan balasan dari seorang teman itu.
Berbekal
keyakinan dan niat ingin berkunjung dan menemani pada acara sahabat-sahabat,
yang sudah kami anggap sebagai adik kandung ideologis tentu, kami berangkat.
Bismillah… Lely tidak seperti yang saya khawatirkan akan sangat ketakutan pada
saat memasuki daerah perkebunan. Namun ternyata tidak sama sekali, malah dia
mengajak saya ngobrol sepanjang perjalanan di dalam kebun yang sama sekali tidak ada lampu jalan dan bahkan perkampungan. Jalan yang rusak, dan becek serta beberapa genangan air karena habis hujan sehingga harus ekstra hati-hati untuk melintas.
mengajak saya ngobrol sepanjang perjalanan di dalam kebun yang sama sekali tidak ada lampu jalan dan bahkan perkampungan. Jalan yang rusak, dan becek serta beberapa genangan air karena habis hujan sehingga harus ekstra hati-hati untuk melintas.
Sembari
membaca sholawat dalam hati sementara bibir saya terus saja asik bercerita
ketika memasuki kebun sekitar pukul 23.30 WIB. Tiba di pos penjagaan, kami
berhenti dan mengatakan akan menuju ke lokasi camping mahasiswa UNEJ. Penjaga
kemudian mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan. “ Hati-hati mas,” ungkap
penjaga. Kalimat yang mewakili akan kepedulian namun juga seolah tersirat rasa
pesimis, entahlah.
Kembali
kami melanjutkan perjalanan. Lely bertanya, “sampean tau mas lokasi tadabbur
alamnya?”. Baru saya sadar kalau saya tidak tahu lokasinya. “Kalau persisnya
aku ndak tahu Lel, tapi sekitar lapangan nanti belok kanan, tempatnya di dekat
sungai,” demikian pernyataan saya. Kami terus menyusuri jalanan gelap dengan
pepohonan tinggi menjulang di kanan kiri
itu dengan pernuh kehati-hatian. Lalu tiba kami di pemukiman terakhir,
tempat yang biasa saya jadikan penitipan sepeda motor apabila mau tracking ke
Tancak Panti.
“Sepertinya
kita salah tempat Lel, tidak mungkin kalau ini masih terus, karena ini sudah
track menuju ke Tancak, kita putar balik dulu,” ungkap saya kepada Lely. Dia
terlihat santai saja tanpa ada kesan menyalahkan sedikit pun. Rumah terakhir
dekat gapura da seorang warga terlihat di dalam rumah, kami memutuskan untuk
menghampiri beliau.
“Permisi
Pak, maaf mengganggu, kami sedang mencari lokasi camping anak UNEJ di sekitar
sini, apa Bapak tahu?. Oh… silahkan duduk dulu mas itu mbaknya juga diajak
kesini (Lely yang masih berada di tepi jalan pun ikut menghampiri. Kami
dipersilahkan duduk di serambi rumah itu. Beliau bilang kalau tidak tahu.
“kalau orang-orang camping biasanya di lapangan itu mas (sambil menunjuk
lapangan tidak jauh dari rumah itu), tapi ini tidak ada. Tidak ada juga yang
bertamu kesini,” Ungkap beliau.
Sembari
bertanya pada Bapak (saya lupa tidak menanyakan namanya) saya mencoba
menghubungi sahabat-sahabat yang ada di lokasi. Baru sekitar pukul 00.00 WIB
mereka menjawab dan ternyata kita kelewat dari tempat tadabbur alam itu.
Setelah menjelaskan lokasi dan kami pun meminta petunjuk bapak dengan detail.
Kami kemudian berpamitan dan menuju lokasi tadabbur alam.
Disana
Fikri, salah seorang dari peserta tadabbur alam sudah menunggu di tepi jalan.
Mengarahkan kami ke lokasi camping. Ternyata harus menyebrangi sungai. Dengan
dibantu beberapa sahabat yang lain, saya coba melintasi sungai dengan sepeda
motor dan ya, bisa. Waktu yang sudah cukup larut membuat sahabat-sahabat mulai
kelelahan. Kemudian berikutnya berdoa bersama sebelum agenda ditutup. Ternyata
masih banyak yang belum mau beristirahat, kemudian kita isi dengan game santai
sembari membangun keakraban diantara peserta.
Bintang-bintang
yang sangat banyak jumlahnya yang sebelumnya terlihat jelas diatas langit
Gunung Pasang tiba-tiba lenyap satu persatu. dan ya, gerimis pun menghampiri
kami. Kami kemudian memindahkan barang-barang ke tenda dan berteduh disana.
Tapi ternyata 3 tenda itu tidak cukup untuk menampung kami beserta
barang-barang yang ada. Beruntung gerimis segera reda dan bintang-bintang itu
kembali bermunculan.
Duduk
melingkar dekat api unggu dengan diselingi cerita-cerita santai dari kami,
sekali waktu bernyanyi bersama menikmati malam yang sungguh terasa berada
ditengah alam nan damai. Suara hewan malam, gemericik air sungai, gemerisik
dedaunan yang saling bergesekan diterpa angin. Malam pun berganti dini hari,
jam menunjukkan pukul 02.00 WIB. Beberapa buruh penyadap karet mulai terlihat
melintas. Kami melanjutkan perbincangan dengan tetap sekali waktu diselingi
bernyanyi bersama.
Subuh
pun menjemput, beberapa dari kami yang masih terjaga bergantian untuk sholat,
kemudian membangunkan sahabat-sahabat yang terlelap. Tidak ada agenda pagi itu,
beberapa berjalan menuju pemukiman warga dan membawa makanan ringan dengan
ditemani kopi hitam yang baru saja disedu. Sungguh, jauh dari hiruk pikuk
aktivitas banal manusia.
Kami
menyantap makanan ringan itu ditemani kopi yang baru saja selesai disedu oleh
seorang sahabat. Matahari semakin meninggi, kami memutuskan untuk berkemas dan
segera pulang. Malam itu, banyak hikmah yang kita petik dalam kebersamaan
dengan sahabat-sahabat kami dan ketidakbersamaan dengan banalitas keseharian.
Alam itu menjadi saksi. Kembalinya
sang mahluk
dengan jiwa yang lepas
jiwa yang tamak dan rakus akan ruang
yang lain
kita menyatu dalam satu
menghadirkan kehadiran
meniadakan ketiadaan
dan itu adalah kita

ceritanya seru, bisa membawa pembaca merasakan sensasinya :D
BalasHapus