Udara pada Sabtu pagi itu masih terasa sejuk dan langit masih mendung. Kami akan berangkat ke Ranu Agung Probolinggo bersama teman-teman UKM LIMAS FISIP UNEJ. UKM yang bergerak di bidang riset dan aktivitas ilmiah lingkup sosial politik. Mundur sekitar dua setengah jam dari jadwal keberangkatan yang seharusnya pukul 07.00 WIB dan akhirnya baru berangkat pukul 09.30 WIB.
Sebelum
berangkat, kami berkumpul di skretariat kompleks UKM FISIP UNEJ, berdoa
terlebih dahulu untuk memohon keselamatan dan kemanfaatan perjalanan. Setelah
berdoa, kami sejumlah 36 orang anggota berangkat dengan menggunakan sepeda
motor.

Dalam
perjalanan ban motor yang kami kendarai tiba-tiba kempes di daerah perbatasan
Bangsal dengan Tanggul. Untunglah
dekat dengan bengkel tambal ban. Teman-teman
menunggu pada jarak sekitar setengah kilometer dari tempat kami menambal ban.
Sisanya menunggu di warung bakso lepas jalur searah di Tanggul menuju Lumajang.
Hanya
sekitar setengah jam mengunggu, ban motor selesai ditambal. Padahal ada dua
lubang yang harus di tambal. Kami melanjutkan perjalanan. Walau ada sedikit
rasa cemas karena ban luar motor supra fit yang kami kendarai itu sudah tipis.
Melalui
jalur alternatif menuju Lumajang, melewati Sumber Baru dan Randu Agung. Kembali
ban motor kami kempes saat baru memasuki perbatasan Lumajang, kali ini berjarak
agak jauh dari tambal ban. Untungnya teman saya Vina yang saya bonceng ditawari
seorang untuk dibonceng dan menunggu di bengkel tambal ban, sementara saya
sendiri menaiki motor dalam keadaan ban belakang kempes dengan jarak sekitar
setengah kilometer.
Kali ini
kami memutuskan untuk mengganti ban luar dan ban dalam, depan dan belakang.
Sayang, ban luar hanya ada yang bekas. Terpaksa kami tetap menggantinya
walaupun dengan ban bekas dengan biaya sejumlah Rp 95 ribu. Sudah masuk waktu
dzuhur, sembari menunggu ban motor, kami sholat dzuhur di masjid dekat tambal
ban.
Dua kali ban
bocor lumayan menghabiskan waktu perjalanan menuju Ranu Agung. Namun kami tetap
bersama dan saling menunggu apabila ada teman yang terkendala. Seperti
mengalami ban kempes karena bocor. Hampir memasuki daerah Klakah tiba-tiba
hujan deras, kami menggunakan jas hujan dan sebagian teman membeli jas hujan
dari plastik yang agak lebih tipis di pinggir jalan seharga Rp 8 ribuan.
Setelah
sampai Malasan Probolinggo kami belok kanan ke arah Banyuanyar atau jalur ini
lebih dikenal sebagai jalur ke arah songa adventure, salah satu sungai yang
biasa digunakan arung jeram di Probolinggo. Sampai di sini, hujan sudah tidak
terlalu deras. Tapi jalan yang berlubang dan bergelombang menjadi tantangan
baru. Kami harus ekstra hati-hati melaluinya. Belum lagi warga setempat yang
cenderung “seenaknya sendiri mengemudi”.
Setelah itu
jalur menanjak dan sebagian rusak ke arah Tiris kami juga lalui. Di perjalanan
rantai motor salah satu teman kami lepas. Kami berenti dan memperbaikinya.
Beruntung ada warga sertempat yang ikut membantu. Perjalanan dilanjutkan
melalui medan pegunungan, dimana kanan dan kiri terdapat jurang dan pemandangan
khas pegunungan yang hijau.
Akhirnya kami
sampai di parkiran wisata Ranu Agung. Kami diantar oleh guide melalui jalur
tracking. Berjalan kaki sekitar dua kilometer dengan medan licin dan berlumpur,
karena baru selesai diguyur hujan. Beberapa teman kami sempat terpeleset dan
jatuh. Beruntung tidak mengalami cedera serius. Sungguh perjalanan yang
perjuangan.
Tidak terasa
kami sudah sampai di bibir Ranu Agung. Sampai di sini, kami masih belum merasa
puas dan perjuangan belum terbayar penuh. Di sana ada dua warung yang menjual
kopi dan makanan. Tapi hanya buka sampai sore, ketika kami datang sudah akan
tutup. Kami pun memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum mendirikan
tenda. Tentu foto-foto terlebih dahulu sebelum itu semua.
Hari sudah
sore dan kami selesai mendirikan tenda. Kami melakukan sholat ashar, maghrib
dan isyak berjamaah dengan beralaskan banner diantara tenda-tenda. Ada sejumlah
5 tenda dengan kapasitas masing-masing 4 orang. Tapi kami harus isi sejumlah 7
orang agar semua bisa tidur di tenda. Karena kapasitas yang tidak mencukupi,
beberapa teman terpaksa tidur di luar tenda. Ada yang tidur di warung yang
sudah tutup itu. Ada yang tidur di atas rakit.
Sebelum
tidur, untuk mengisi waktu teman-teman mengadakan permainan TOD. Permainan yang
sering dilakukan bagi teman-teman yang suka camping. Dilanjutkan dengan cerita
mengenai pengalaman dan harapan LIMAS kedepan oleh saya selaku ketua LIMAS
sebelum teman Habib, tepatnya periode 2013-2014. Melihat teman-teman yang sudah
lelah dank abut juga sudah turun, kami memutuskan mengakhiri forum dan
menyilakan teman-teman beristirahat.
Saya sendiri
memilih tidak tidur dan duduk berdiskusi bersama beberapa teman di atas rakit.
Kami berbincang mulai dari peluang seorang peneliti, anggota LIMAS untuk ikut
penelitian dosen, tentu dengan kompetensi yang memang kita patut untuk dipertimbangkan.
Hingga peluang pada ruang lain karena menentukan kebijakan pemerintah yang
harus melalui kajian akademis. Cerita mengenai pengalaman menjadi seorang
wartawan, jurnal dan buku yang sudah kami baca.
Tidak terasa
waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 WIB, teman-teman sudah pada terlelap. Saya
memutuskan untuk duduk lebih kepinggir untuk menikmati siraman cahaya bulan
yang yang masih separuh. Kabut yang semakin tebal menyelimuti permukaan Ranu.
Suara alam jelas terdengar saat itu. Sayup-sayup dari jauh terlihat dua orang
warga setempat masih beraktivitas di tepi ranu. Tidak terlihat jelas aktivitas
mereka, sepertinya memancing ikan.
Sesekali
saya berjalan diantara tenda teman-teman yang hanya berjarak sekitar 30 meter untuk
melihat-lihat. Kemudian kembali lagi ke rakit. Berefleksi dan merenungkan
berbagai kejadian selama perjalanan dan keindahan alam ciptaan Tuhan. Fajar
sudah terbit dan waktu subuh sudah memanggil, kami pun sholat subuh berjamaan
dengan beberapa teman yang sudah bangun. Tiba-tiba rasa kantuk tidak tertahan.
Sebagian teman yang sudah bangun dan keluar tenda. Saya masuk ke tenda yang
hanya tersisa dua teman yang masih tidur.
Sekitar
pukul 07.30 saya dibangunkan karena ada teman yang sudah mandi dan berenang di
ranu. Hari sebelumnya kami memang berniat untuk berenang. Tapi karena hari
terlalu sore, kami memutuskan untuk berenang keesokan harinya saja. Pertama
kali berenang di ranu. Sebelumnya sempat diingatkan oleh guide untuk berenang
tidak terlalu siang. Khawatir ada petugas lain yang biasanya melarang
pengunjung untuk berenang.
Airnya
sangat dingin membuat kami tidak betah berlama-lama. Kami naik dan mulai
sarapan mie instan yang sudah dimasak menggunakan kompor portabel. Usai itu kami memutuskan naik rakit
untuk berkeliling ranu. Dengan membayar Rp 10 ribu per orang, dimana
masing-masing rakit bisa diisi 5 – 6 orang. Pemilik rakit bercerita kalau
pengunjung Ranu Agung mulai ramai sejak bulan Januari (tahun baru) 2016.
Sebelumnya tidak ada rakit untuk wisata, yang ada rakit kecil yang digunakan
warga untuk mencari ikan.
Sesampainya
di dekat tebing. kami meminta kepada pemilik rakit untuk menepi. Kami ingin
menikmati ranu dengan melompat dari tebing. Pemilik rakit mengizinkan namun
memastikan terlebih dahulu bahwa kami bisa berenang. “Kalau tidak bisa merenang
atau ragu-ragu, lebih baik jangan. Keselamatan kalian juga menjadi tanggung
jawab kami,” demikian ungkapan pemilik rakit.
Titik
pertama ketinggian tempat meloncat sekitar 4 meter. Saya tidak berani melompat,
hanya dua teman saya yang pada waktu itu satu rakit yang berani. Batu pada
titik melompat kedua, dengan ketinggian sekitar 3 meter saya berani dan bahkan
5 orang teman semua ikut melompat. Sungguh pengalaman luar biasa, melompat dari
tebing dengan ketinggian 3 meter pada kedalaman ranu sekitar 35 meter. Byurrr…..
lompatan pertama saya.
Takut, ragu
dan berbagai perasaan lain bercampur-aduk. Tapi kami tetap memberanikan diri
untuk melompat. Berhasil untuk lompatan pertama, saya kembali tertantang untuk
kembali melompat sampai tiga kali. Konon, ranu itu diberi nama Ranu Agung,
karena ada tebing yang menjulang tinggi di satu sisi ranu, selain itu juga
karena permukaan yang luas dan dalamnya ranu mencapai sekitar 40 meter.
Puas
berkeliling ranu dengan rakit kami menepi dan mengemas tenda serta berbagai
perlengkapan lain. cuaca sangat cerah pada waktu itu. Kami kembali menyebrang
ranu dengan rakit ke sisi utara agar lebih dekat menuju parkiran. Cukup dengan
membayar Rp 5 ribu untuk setiap anak. Menarik karena masing-masing rakit hanya
diisi 3 anak. Sehingga masing-masing pemilik rakit mendapat penumpang.
Sampai di
sisi utara Ranu Agung, ada tulisan dari My Trip My Adventure (MTMA) Probolinggo
mengenai ketinggian ranu sekitar 500 Mdp. Saya pribadi tidak percaya. Karena
perjalanan kami menanjak dan terasa cukup jauh. Entahlah, karena bisa jadi itu
juga memang benar.
Melewati
track berbeda dengan pada waktu berangkat. Kali ini tracknya sangat menanjak,
saya memutuskan berada di paling belakang untuk mengamati teman-teman. Sempat
beberapa kali berhenti untuk istirahat dan mengatur nafas selama pendakian
menuju parkiran.
Sesampainya
di parkiran, beristirahat sebentar dan kami pun pulang ke Jember. Perjalanan
yang luar biasa. Semoga banyak pelajaran yang kita dapat dan yang pasti selalu
bersyukur atas segala nikmat Tuhan.







Interesting 😁. Denger review2 serem berseliweran di internet soal track kesini, bisa ga ya kira2 pake motor matic? Ehehe
BalasHapus